Allan Gray Mulai Investasi di Indonesia Saat IHSG Tertekan dan Valuasi Saham Menarik
Sell-Off Pasar Indonesia Membuka Peluang Bagi Investor Jangka Panjang
Gelombang tekanan terhadap aset Indonesia sepanjang 2026 tidak hanya memicu aksi jual investor global, tetapi juga membuka peluang bagi sejumlah manajer investasi yang berorientasi jangka panjang. Salah satunya adalah Allan Gray, perusahaan pengelola aset asal Afrika Selatan yang mulai meningkatkan eksposurnya terhadap pasar saham Indonesia.
Baca Juga “Hakim AS Setujui Settlement Elon Musk dengan SEC Terkait Saham Twitter“
Allan Gray melihat penurunan tajam di pasar saham domestik sebagai peluang investasi karena banyak saham mengalami koreksi hingga berada pada tingkat valuasi yang lebih menarik. Perusahaan tersebut menilai kondisi pasar yang penuh ketidakpastian dapat memberikan kesempatan bagi investor dengan pendekatan berbasis fundamental.
Berdasarkan laporan The Business Times Singapura yang mengutip data Bloomberg, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi salah satu indeks saham dengan kinerja terburuk secara global sepanjang 2026. IHSG tercatat mengalami penurunan lebih dari 35 persen dalam denominasi dolar AS.
Penurunan tersebut menempatkan IHSG sebagai indeks dengan performa terlemah dibandingkan 92 indeks saham yang dipantau Bloomberg. Tekanan pasar terjadi akibat kombinasi faktor domestik dan global yang meningkatkan kehati-hatian investor.
Tekanan IHSG Dipengaruhi Risiko Status Pasar Berkembang
Salah satu faktor utama yang menekan sentimen terhadap pasar saham Indonesia adalah peringatan dari MSCI pada Januari 2026. Lembaga penyedia indeks global tersebut menyoroti terbatasnya jumlah saham Indonesia yang memenuhi standar investabilitas bagi investor internasional.
Peringatan itu memunculkan kekhawatiran mengenai potensi penurunan status Indonesia dari kategori pasar berkembang atau emerging market menjadi pasar frontier. Jika terjadi, perubahan status tersebut dapat memengaruhi minat investor asing terhadap aset Indonesia.
Menanggapi kekhawatiran tersebut, pemerintah mulai melakukan sejumlah reformasi pasar modal. Langkah tersebut akan kembali dievaluasi MSCI dalam peninjauan berikutnya pada November 2026.
Sentimen negatif kembali meningkat setelah S&P Dow Jones Indices menyampaikan potensi risiko serupa apabila perbaikan pasar saham domestik tidak berjalan optimal. Pada saat tekanan bursa regional meningkat, IHSG sempat melemah 1,3 persen dalam satu sesi perdagangan.
Selain isu klasifikasi pasar, investor juga memperhatikan sejumlah faktor lain. Beberapa di antaranya adalah arah kebijakan fiskal, tata kelola pemerintahan, pelemahan rupiah, serta kepastian kebijakan ekonomi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Allan Gray Melihat Peluang dari Saham dengan Valuasi Rendah
Di tengah tekanan tersebut, Allan Gray justru mulai mencari peluang investasi di Indonesia. Portfolio Manager Allan Gray, Rory Kutisker-Jacobson, menilai kondisi pasar yang penuh volatilitas dapat memberikan peluang bagi investor yang memiliki kesabaran dan fokus terhadap nilai fundamental perusahaan.
Menurut Kutisker-Jacobson, pasar yang kurang mendapat perhatian investor global sering kali menciptakan ketidakefisienan harga. Kondisi tersebut memungkinkan investor menemukan saham berkualitas dengan harga yang berada di bawah nilai wajarnya.
“Periode volatilitas tinggi dan ketidakpastian investor seperti ini menjadi lahan yang sangat menarik bagi investor yang terbiasa di pasar frontier yang sabar dan berfokus pada valuasi,” ujar Kutisker-Jacobson dalam laporannya.
Strategi tersebut sejalan dengan pendekatan value investing yang selama ini digunakan Allan Gray. Perusahaan mencari emiten dengan fundamental kuat, prospek bisnis yang baik, dan harga saham yang dinilai lebih rendah dibandingkan nilai intrinsiknya.
Indofood Menjadi Investasi Perdana Allan Gray di Indonesia
Sebagai langkah awal memasuki pasar Indonesia, Allan Gray melakukan pembelian saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk pada Juni 2026. Perusahaan makanan tersebut dipilih karena memiliki posisi kuat di sektor konsumer dan dikenal sebagai salah satu produsen mi instan terbesar di dunia.
Allan Gray menilai saham Indofood menawarkan valuasi menarik dengan rasio harga terhadap laba atau price-to-earnings ratio (PER) sekitar lima kali. Valuasi tersebut dianggap rendah dibandingkan kualitas bisnis, kekuatan merek, serta kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas.
Kutisker-Jacobson menyebut Indofood memiliki posisi pasar yang dominan dan bisnis yang berorientasi pada kebutuhan konsumen. Karakteristik tersebut dinilai sesuai dengan strategi investasi jangka panjang Allan Gray.
Setelah investasi awal tersebut, Allan Gray juga memperluas kajian terhadap pasar Indonesia. Perusahaan tengah menyusun sejumlah riset internal untuk menemukan peluang investasi lain di berbagai sektor.
Allan Gray Perkuat Portofolio Pasar Frontier Global
Allan Gray Frontier Markets Equity Fund yang dikelola perusahaan tersebut mencatatkan kinerja positif dengan imbal hasil hampir 9 persen hingga pertengahan 2026. Selain Indonesia, dana tersebut juga membuka posisi investasi di sejumlah negara lain seperti Meksiko, Polandia, dan Turki.
Di sisi lain, Allan Gray mengurangi kepemilikannya pada perusahaan energi Nigeria, Seplat Energy. Langkah tersebut dilakukan setelah harga minyak mentah Brent mulai mengalami penurunan usai Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan gencatan senjata pada Juni 2026.
Meredanya ketegangan geopolitik mengurangi kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global, terutama melalui Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur distribusi minyak penting dunia.
Strategi Value Investing Jadi Dasar Ekspansi Allan Gray
Allan Gray merupakan perusahaan manajemen investasi independen yang berdiri sejak 1973 di Cape Town, Afrika Selatan. Perusahaan tersebut mengelola aset sekitar US$29 miliar dengan pendekatan investasi berbasis analisis fundamental.
Melalui strategi value investing, Allan Gray berfokus mencari perusahaan yang memiliki kualitas bisnis baik tetapi diperdagangkan di bawah nilai wajarnya. Pendekatan ini biasanya membutuhkan perspektif jangka panjang dan disiplin dalam menghadapi volatilitas pasar.
Melalui Allan Gray Frontier Markets Equity Fund, perusahaan berinvestasi di berbagai negara berkembang dan pasar frontier. Portofolionya mencakup kawasan Afrika, Amerika Latin, Eropa Timur, dan Asia.
Masuknya Allan Gray ke pasar Indonesia menunjukkan bahwa tekanan IHSG tidak selalu dipandang sebagai risiko. Bagi investor dengan strategi jangka panjang, pelemahan pasar dapat menjadi peluang untuk menemukan saham berkualitas dengan harga yang lebih menarik.
Ke depan, pergerakan IHSG masih akan dipengaruhi oleh perbaikan sentimen global, kebijakan pemerintah, serta kemampuan pasar modal Indonesia meningkatkan daya tarik bagi investor internasional.
Baca Juga “Mengapa saham EquipmentShare melonjak hari ini?“



