BEI Catat Tujuh IPO hingga Juli 2026, Empat Perusahaan Masih dalam Antrean
Bursa Efek Indonesia Sebut Pipeline IPO Didominasi Emiten Sektor Kesehatan
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat aktivitas penghimpunan dana melalui penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) tetap berlangsung positif sepanjang 2026. Hingga 10 Juli 2026, sebanyak tujuh perusahaan resmi mencatatkan saham perdana di pasar modal Indonesia dengan total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp2,16 triliun.
Baca Juga “Bursa Saham Asia Menguat di Tengah Ketegangan AS-Iran Meningkat“
Pencapaian tersebut menunjukkan minat perusahaan untuk memperoleh pendanaan melalui pasar modal masih terjaga meskipun kondisi ekonomi global menghadapi berbagai tantangan. Bursa juga memastikan proses pencatatan emiten baru terus berjalan dengan sejumlah perusahaan yang masih berada dalam tahap persiapan.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin, mengatakan hingga pertengahan Juli masih terdapat empat perusahaan yang masuk dalam pipeline atau antrean pencatatan saham.
“Sampai 10 Juli 2026, telah tercatat tujuh perusahaan yang mencatatkan saham di BEI dengan dana dihimpun Rp2,16 triliun. Hingga saat ini, terdapat empat perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI,” ujar Saidu dalam keterangan resminya.
Keberadaan pipeline tersebut menjadi indikator bahwa aktivitas IPO masih berlanjut. Proses pencatatan dilakukan setelah perusahaan memenuhi berbagai persyaratan yang ditetapkan regulator dan Bursa Efek Indonesia.
Empat Calon Emiten Berasal dari Berbagai Skala Usaha
BEI menjelaskan bahwa empat perusahaan yang sedang mempersiapkan IPO memiliki karakteristik aset yang berbeda. Dua perusahaan termasuk kategori perusahaan dengan aset besar, sedangkan dua lainnya merupakan perusahaan berskala kecil.
Menurut Saidu, dua perusahaan memiliki total aset di atas Rp250 miliar sehingga masuk kategori perusahaan besar. Sementara itu, dua perusahaan lainnya memiliki aset di bawah Rp50 miliar sesuai klasifikasi perusahaan kecil.
Pengelompokan tersebut mengacu pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 53/POJK.04/2017 mengenai pernyataan pendaftaran dalam rangka penawaran umum.
Keberagaman ukuran perusahaan menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia tetap terbuka bagi berbagai jenis pelaku usaha. Tidak hanya perusahaan besar, perusahaan dengan skala usaha lebih kecil juga memiliki kesempatan memperoleh pendanaan melalui bursa apabila memenuhi ketentuan yang berlaku.
Sektor Kesehatan Mendominasi Antrean IPO
Dari sisi sektor usaha, perusahaan yang tengah bersiap melantai di Bursa berasal dari beberapa bidang industri. Sektor kesehatan menjadi penyumbang terbesar dalam daftar antrean IPO.
BEI mencatat terdapat dua perusahaan sektor kesehatan yang sedang menjalani proses menuju pencatatan saham perdana. Selain itu, terdapat satu perusahaan dari sektor barang konsumen primer serta satu perusahaan dari sektor barang baku.
Dominasi sektor kesehatan mencerminkan masih tingginya minat investor terhadap industri yang memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang. Dalam beberapa tahun terakhir, sektor ini memperoleh perhatian lebih besar seiring meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan dan investasi di bidang medis.
Sementara itu, kehadiran perusahaan dari sektor barang konsumen primer dan barang baku menunjukkan aktivitas pasar modal tetap mencerminkan keragaman struktur ekonomi nasional.
Jumlah Emiten di BEI Mendekati Seribu Perusahaan
Hingga 10 Juli 2026, jumlah perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia mencapai 963 emiten. Angka tersebut terus bertambah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya dan menjadi salah satu indikator perkembangan pasar modal nasional.
BEI menargetkan jumlah perusahaan tercatat dapat mencapai 1.100 emiten pada tahun 2030. Untuk mencapai target tersebut, Bursa terus memperluas edukasi kepada perusahaan potensial agar memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pembiayaan jangka panjang.
Peningkatan jumlah emiten diharapkan mampu memperdalam pasar keuangan Indonesia. Semakin banyak perusahaan yang melantai di bursa, semakin luas pula pilihan investasi bagi masyarakat dan investor institusi.
Selain memperbesar alternatif pendanaan bagi dunia usaha, bertambahnya jumlah emiten juga dapat meningkatkan likuiditas perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia.
Penerbitan Obligasi dan Sukuk Masih Tumbuh Positif
Selain aktivitas IPO, BEI juga mencatat perkembangan positif pada penerbitan Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS). Hingga 10 Juli 2026, terdapat 109 emisi yang diterbitkan oleh 59 penerbit dengan total nilai penghimpunan dana mencapai Rp100,12 triliun.
Instrumen obligasi dan sukuk masih menjadi alternatif pendanaan yang banyak dimanfaatkan perusahaan di berbagai sektor. Pendanaan melalui instrumen utang dinilai mampu melengkapi kebutuhan pembiayaan selain penerbitan saham.
Sementara itu, BEI juga mencatat terdapat 12 emisi dari 11 penerbit yang masih berada dalam pipeline penerbitan EBUS. Hal tersebut menunjukkan aktivitas penghimpunan dana melalui pasar modal tidak hanya berasal dari IPO, tetapi juga melalui instrumen surat utang.
Keberagaman instrumen pembiayaan menjadi salah satu faktor yang mendukung perkembangan pasar modal Indonesia. Perusahaan dapat memilih skema pendanaan sesuai kebutuhan bisnis dan struktur keuangan masing-masing.
Rights Issue Turut Menjadi Sumber Pendanaan Emiten
Aktivitas penghimpunan dana melalui rights issue atau Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) juga masih berlangsung sepanjang 2026.
BEI mencatat hingga 10 Juli terdapat empat perusahaan yang telah melaksanakan rights issue dengan total nilai mencapai Rp3,89 triliun. Dana tersebut umumnya digunakan untuk memperkuat modal kerja, ekspansi usaha, hingga restrukturisasi keuangan perusahaan.
Selain itu, masih terdapat satu perusahaan dari sektor properti yang berada dalam antrean pelaksanaan rights issue. Proses tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan memperoleh tambahan modal dari para pemegang saham.
Rights issue tetap menjadi salah satu instrumen strategis bagi emiten yang telah tercatat di bursa untuk memperkuat struktur permodalan tanpa harus melakukan penawaran saham perdana.
Pasar Modal Indonesia Terus Didorong Menjadi Sumber Pendanaan Jangka Panjang
Perkembangan jumlah IPO, penerbitan obligasi, sukuk, dan rights issue menunjukkan aktivitas pasar modal Indonesia masih bergerak positif sepanjang 2026. Kondisi tersebut mencerminkan kepercayaan perusahaan terhadap pasar modal sebagai sumber pembiayaan yang kompetitif dan berkelanjutan.
Ke depan, BEI bersama regulator akan terus mendorong lebih banyak perusahaan memanfaatkan pasar modal untuk mendukung ekspansi bisnis. Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan jumlah emiten sekaligus memperluas pilihan investasi bagi masyarakat.
Dengan bertambahnya perusahaan tercatat dan semakin beragamnya instrumen pembiayaan, pasar modal Indonesia diharapkan semakin kuat dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, meningkatkan daya saing dunia usaha, serta memperluas akses pendanaan bagi berbagai sektor industri.
Baca Juga “Bursa Saham Eropa Dibuka Melemah Tertekan Konflik AS-Iran yang Memanas Lagi“


