Gen Z Mulai Investasi Sejak Remaja untuk Membangun Kekayaan Jangka Panjang
Kesadaran finansial di kalangan generasi Z terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Di tengah kenaikan biaya hidup, harga properti yang semakin mahal, dan ketidakpastian ekonomi global, banyak anak muda mulai memandang investasi sebagai kebutuhan, bukan lagi sekadar pilihan.
Fenomena ini terlihat dari semakin banyaknya Gen Z yang mulai berinvestasi sejak usia remaja. Salah satu contohnya adalah Michelle Huynh, perempuan asal Australia yang berhasil membangun portofolio investasi bernilai ratusan ribu dolar Australia sebelum usia 30 tahun. Kisahnya mencerminkan perubahan pola pikir generasi muda yang semakin fokus pada kemandirian finansial dan penciptaan kekayaan jangka panjang.
baca juga”Bank Korsel Gandeng Solana untuk Ekspansi Blockchain“
Michelle Huynh Bangun Portofolio Miliaran Rupiah Sebelum Usia 30 Tahun
Michelle Huynh mulai berinvestasi di pasar saham saat berusia 18 tahun. Delapan tahun kemudian, saat menginjak usia 26 tahun, ia telah memiliki portofolio investasi senilai sekitar AU$240.000 atau setara hampir Rp3 miliar.
Dalam wawancaranya yang dikutip Yahoo Finance, Huynh menilai investasi kini menjadi bagian penting dalam perencanaan keuangan generasi muda. Menurutnya, kondisi ekonomi saat ini membuat banyak orang tidak bisa lagi menunda investasi jika ingin mencapai tujuan finansial di masa depan.
Ambisi Huynh cukup jelas. Ia menargetkan menjadi jutawan sebelum usia 30 tahun. Untuk mewujudkan target tersebut, ia menerapkan disiplin keuangan yang ketat dan mengalokasikan sebagian besar pendapatannya ke berbagai instrumen investasi.
Strategi Investasi Berbasis Saham dan Properti
Selain aktif berinvestasi di pasar saham, Huynh juga mulai membangun aset melalui sektor properti. Dua tahun lalu, ia membeli properti investasi di Perth dengan nilai sekitar AU$580.000.
Untuk merealisasikan pembelian tersebut, Huynh menyiapkan uang muka sebesar 15 persen. Sementara itu, orang tuanya membantu sebagai penjamin tambahan sehingga ia dapat mengurangi biaya pembiayaan tertentu.
Alih-alih membeli rumah untuk ditinggali sendiri, Huynh memilih fokus pada aset yang dapat menghasilkan pertumbuhan nilai dan potensi pendapatan. Keputusan itu diambil karena harga properti di Sydney dinilai masih sulit dijangkau oleh banyak generasi muda.
Seiring berjalannya waktu, nilai properti tersebut mengalami kenaikan dan diperkirakan mencapai sekitar AU$780.000. Selain itu, Huynh terus menginvestasikan sekitar 60 persen penghasilannya ke instrumen saham dan Exchange-Traded Funds (ETF).
Investasi Menjadi Prioritas Finansial Generasi Z
Kisah Huynh ternyata mencerminkan tren yang lebih luas di kalangan Gen Z Australia. Hasil riset yang dilakukan Anyway dan Raiz menunjukkan bahwa mayoritas generasi muda menganggap investasi sebagai bagian penting dari perencanaan keuangan mereka.
Dari 1.013 responden yang disurvei, sebanyak 69 persen menyatakan investasi sangat penting bagi masa depan finansial mereka. Sementara itu, 61 persen menjadikan kemandirian finansial sebagai motivasi utama untuk berinvestasi.
Sebanyak 55 persen responden juga menyebut penciptaan kekayaan jangka panjang sebagai tujuan utama mereka. Temuan tersebut menunjukkan bahwa generasi muda semakin menyadari pentingnya membangun aset sejak dini.
Minat terhadap investasi juga tergolong tinggi. Setengah dari responden mengaku sangat tertarik atau sangat antusias untuk mulai berinvestasi dalam berbagai instrumen keuangan.
Harga Properti Mendorong Anak Muda Mencari Alternatif Investasi
Meningkatnya minat investasi tidak lepas dari tantangan ekonomi yang dihadapi generasi muda saat ini. Salah satu faktor terbesar adalah harga properti yang terus meningkat di berbagai kota besar.
Survei yang sama menunjukkan bahwa 83 persen responden percaya memiliki rumah tanpa bantuan keluarga akan menjadi hal yang sangat sulit. Kondisi tersebut membuat banyak anak muda mencari alternatif untuk membangun kekayaan melalui investasi saham, ETF, maupun aset lainnya.
Meski demikian, minat tinggi belum selalu diikuti tindakan nyata. Hanya sekitar 32 persen responden yang berencana mulai berinvestasi dalam 12 bulan ke depan. Sebagian besar mengaku masih bingung menentukan langkah awal dan belum memiliki pengetahuan yang cukup.
Tantangan Terbesar Gen Z adalah Kurangnya Kepercayaan Diri
Kepala Produk Raiz Invest, Tom Nguyen, menilai tantangan utama generasi muda bukan terletak pada kurangnya minat terhadap investasi. Menurutnya, banyak Gen Z justru memiliki keinginan kuat untuk membangun masa depan finansial yang lebih baik.
Namun, kompleksitas produk investasi dan banyaknya informasi yang beredar sering membuat mereka merasa kewalahan. Akibatnya, sebagian anak muda memilih menunda keputusan investasi meski memahami manfaatnya.
Nguyen menyebut kondisi tersebut sebagai kesenjangan kepercayaan diri. Banyak generasi muda memahami pentingnya investasi, tetapi belum yakin untuk mengambil langkah pertama.
Jumlah Investor Muda Terus Bertambah
Perdebatan mengenai jumlah investor muda di Australia masih berlangsung. Data perpajakan yang dikutip Menteri Keuangan Australia, Jim Chalmers, menunjukkan hanya sekitar satu dari sepuluh warga berusia di bawah 35 tahun yang memiliki saham.
Namun, survei lain memberikan gambaran yang berbeda. Penelitian dari Australian Securities and Investments Commission (ASIC) memperkirakan hampir satu dari lima orang berusia di bawah 28 tahun telah memiliki investasi saham.
Sementara itu, platform investasi Raiz mencatat lebih dari 210.000 pengguna berusia 18 hingga 39 tahun. Menariknya, sekitar setengah dari seluruh pengguna baru selama satu tahun terakhir berasal dari kelompok Gen Z.
Investasi Dini Semakin Menjadi Tren di Kalangan Generasi Muda
Perubahan perilaku keuangan generasi Z menunjukkan bahwa investasi semakin dianggap sebagai fondasi penting untuk mencapai kebebasan finansial. Kisah Michelle Huynh menjadi contoh bagaimana disiplin menabung, berinvestasi secara konsisten, dan memulai lebih awal dapat membantu membangun aset dalam jangka panjang.
Meski masih menghadapi tantangan berupa minimnya literasi dan rasa percaya diri, tren investasi di kalangan anak muda diperkirakan akan terus meningkat. Dengan akses informasi yang semakin luas dan hadirnya berbagai platform investasi digital, generasi Z memiliki peluang lebih besar untuk mulai membangun kekayaan sejak usia muda dan mempersiapkan masa depan finansial yang lebih stabil.
baca juga”Ekonom Nilai Stimulus Ekonomi Semester II Bukan Solusi Jangka Panjang“



