Crypto & Web3 Indonesia

IHSG Berpotensi Sideways Dipengaruhi Sentimen Global

IHSG Berpotensi Bergerak Sideways di Tengah Sentimen Global dan Domestik

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak terbatas atau sideways pada perdagangan Kamis di tengah kombinasi sentimen global dan domestik. Pelaku pasar masih mencermati perkembangan inflasi Amerika Serikat, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta sejumlah kebijakan ekonomi yang disiapkan pemerintah Indonesia.

Baca Juga “Direktur PGAS Beli 67.300 Saham

Pada awal perdagangan, IHSG dibuka menguat 28,51 poin atau 0,47 persen ke level 6.068. Sementara itu, indeks LQ45 yang berisi saham-saham berkapitalisasi besar turut naik 2,61 poin atau 0,44 persen menjadi 601,50.

Analis Sarankan Investor Mengikuti Tren Pergerakan Pasar

Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menyarankan investor tetap mengikuti arah tren pasar sambil menerapkan strategi trailing stop untuk mengamankan keuntungan yang telah diperoleh.

Menurutnya, penambahan posisi secara bertahap atau averaging up dapat dipertimbangkan apabila IHSG mampu bertahan di atas area 5.987. Jika momentum positif berlanjut, indeks berpeluang menguji level resistance pada kisaran 6.121 hingga 6.171.

Inflasi AS yang Melandai Menjadi Sentimen Positif

Dari pasar global, investor merespons positif data Producer Price Index (PPI) Amerika Serikat periode Juni 2026 yang menunjukkan tekanan inflasi mulai mereda.

Data tersebut memperlihatkan PPI utama naik 0,3 persen secara bulanan, sedangkan core PPI meningkat 0,2 persen. Secara tahunan, headline PPI tercatat 5,5 persen dan core PPI sebesar 4,7 persen, lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar.

Perkembangan ini memperkuat keyakinan bahwa peluang Federal Reserve menaikkan suku bunga pada pertemuan akhir Juli 2026 semakin kecil. Penurunan ekspektasi kenaikan suku bunga memberikan ruang bagi investor untuk kembali mencermati aset berisiko, termasuk pasar saham.

Liza menjelaskan bahwa perhatian investor kini mulai beralih ke musim laporan keuangan kuartal II. Kinerja emiten sektor teknologi dan perusahaan yang bergerak di bidang kecerdasan buatan (AI) diperkirakan akan menjadi salah satu penentu arah pasar dalam beberapa waktu ke depan.

Perkembangan AI dan Konflik Timur Tengah Masih Dicermati

Di sisi lain, Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menyampaikan bahwa perkembangan teknologi kecerdasan buatan berpotensi meningkatkan permintaan terhadap komponen teknologi, terutama semikonduktor atau chip.

Peningkatan permintaan tersebut dinilai dapat memicu tekanan inflasi dalam beberapa kuartal mendatang. Pernyataan itu menunjukkan bahwa perkembangan AI mulai menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan dalam penyusunan kebijakan moneter.

Selain isu inflasi, pasar juga masih mengamati meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap Iran, sementara Presiden AS Donald Trump menyatakan akan memperluas aksi militer apabila Iran tidak kembali ke meja perundingan.

Menurut Liza, eskalasi konflik tersebut meningkatkan risiko geopolitik dan mendorong kenaikan harga minyak dunia. Kondisi ini berpotensi memengaruhi inflasi global sekaligus meningkatkan volatilitas pasar keuangan.

Kebijakan Pemerintah Indonesia Menjadi Penopang Sentimen

Dari dalam negeri, pemerintah sedang mempersiapkan pembentukan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) sebagai upaya memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat keuangan regional.

Pemerintah menawarkan berbagai insentif bagi investor, mulai dari tarif pajak hingga nol persen selama maksimal 50 tahun, kepastian hukum, serta penyederhanaan regulasi. Kebijakan tersebut diharapkan mampu menarik investasi yang selama ini ditempatkan melalui special purpose vehicle (SPV) di luar negeri.

PFII juga dirancang menjadi kawasan khusus bagi berbagai lembaga jasa keuangan, seperti bank investasi, perusahaan asuransi, dana pensiun, dan institusi keuangan lainnya untuk memperdalam pasar keuangan nasional.

Peran Bank Indonesia Semakin Besar di Pasar Obligasi

Liza juga menyoroti meningkatnya kepemilikan Surat Berharga Negara (SBN) oleh Bank Indonesia. Hingga 10 Juli 2026, porsi kepemilikan BI mencapai 27,41 persen, naik dibandingkan 22,61 persen pada akhir 2025.

Sebaliknya, kepemilikan SBN oleh perbankan dan investor asing terus mengalami penurunan. Menurut Liza, kondisi tersebut menunjukkan Bank Indonesia memainkan peran yang semakin besar dalam menjaga stabilitas pasar obligasi ketika minat investor melemah.

Meski mampu mengurangi gejolak pasar, peningkatan keterlibatan bank sentral juga mencerminkan ketergantungan pemerintah terhadap pembiayaan domestik. Hal itu terlihat dari imbal hasil atau yield SBN tenor 10 tahun yang masih berada di kisaran 7,28 persen.

Pergerakan Bursa Global Masih Beragam

Perdagangan di berbagai bursa dunia masih berlangsung bervariasi. Bursa Eropa ditutup dengan pergerakan campuran, begitu pula Wall Street yang mencatat kenaikan pada indeks Dow Jones dan S&P 500, sementara Nasdaq terkoreksi.

Di kawasan Asia, indeks Nikkei Jepang dan Shanghai Composite melemah pada perdagangan pagi. Sebaliknya, Hang Seng Hong Kong menguat, sedangkan Strait Times Singapura bergerak di zona negatif.

Dengan beragam sentimen yang memengaruhi pasar, pergerakan IHSG diperkirakan masih akan berlangsung terbatas dalam jangka pendek. Investor diperkirakan tetap mencermati perkembangan kebijakan moneter global, dinamika geopolitik, serta implementasi kebijakan ekonomi domestik sebagai faktor utama yang menentukan arah pasar saham selanjutnya.

Baca Juga “Sumber Global Energy melunasi obligasi jatuh tempo senilai Rp92 miliar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *