Crypto & Web3 Indonesia

IHSG Ditutup Melemah Ikuti Bursa Saham Asia

IHSG Ditutup Melemah Mengikuti Bursa Saham Asia
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengakhiri perdagangan Senin dengan pelemahan. IHSG turun 24,02 poin atau 0,37 persen ke level 6.501,67.

Penurunan IHSG sejalan dengan mayoritas bursa saham Asia yang bergerak di zona merah. Indeks LQ45 juga melemah 2,64 poin atau 0,41 persen menjadi 641,95.

Bursa Asia Tertekan Menjelang Kebijakan AS dan China
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, mengatakan bursa regional Asia cenderung melemah.

Baca Juga “EMAS Melonjak 10,44 Persen, Ini Deretan Saham Kompas100 yang Menguat

Menurut Nico, tekanan tersebut terjadi seiring pelemahan futures saham Amerika Serikat menjelang konferensi pers Menteri Keuangan AS Scott Bessent.

Investor mencermati pernyataan terkait rencana sanksi tambahan terhadap Iran. Perkembangan tersebut menjadi salah satu sentimen eksternal yang memengaruhi pergerakan pasar saham regional.

Di Asia, perhatian investor juga tertuju pada pertemuan Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional China pada 25-28 Agustus 2026.

Pelaku pasar menantikan sinyal kebijakan baru dari pemerintah China. Fokus tersebut semakin besar setelah sejumlah data ekonomi China menunjukkan kinerja yang mengecewakan.

Pemerintah China sebelumnya juga menyatakan komitmennya untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi. Karena itu, keputusan dan sinyal kebijakan dari pertemuan tersebut berpotensi menjadi perhatian pasar dalam beberapa hari ke depan.

Defisit Transaksi Berjalan Menjadi Sentimen Domestik
Dari dalam negeri, tekanan terhadap IHSG turut dipengaruhi kekhawatiran mengenai pelebaran defisit transaksi berjalan Indonesia.

Bank Indonesia mencatat defisit transaksi berjalan pada kuartal II 2026 mencapai 12,5 miliar dolar AS. Angka tersebut setara dengan 3,3 persen terhadap produk domestik bruto.

Pelebaran defisit tersebut berkaitan dengan menyusutnya surplus barang dan meningkatnya biaya impor energi. Kondisi ini menjadi perhatian investor karena dapat memengaruhi persepsi terhadap keseimbangan eksternal perekonomian Indonesia.

IHSG sempat dibuka menguat pada awal perdagangan. Namun, indeks kemudian berbalik ke zona negatif hingga penutupan sesi pertama.

Tekanan berlanjut pada sesi kedua. IHSG bertahan di teritori merah sampai perdagangan saham BEI berakhir.

Sektor Kesehatan dan Properti Melemah
Berdasarkan klasifikasi sektoral IDX-IC, hanya dua sektor yang berhasil mencatat penguatan. Sektor barang baku menjadi penguat terbesar dengan kenaikan 1,21 persen.

Sektor industri juga menguat sebesar 0,15 persen. Sebaliknya, sembilan sektor lainnya berakhir melemah pada perdagangan Senin.

Sektor kesehatan mencatat penurunan paling dalam sebesar 2,30 persen. Sektor properti menyusul dengan pelemahan 1,27 persen.

Sektor keuangan juga tertekan dengan penurunan 0,86 persen. Pergerakan tersebut turut memberikan tekanan terhadap kinerja IHSG pada akhir perdagangan.

Saham Penguat dan Pelemah Terbesar
Sejumlah saham mencatat kenaikan harga di tengah pelemahan IHSG. Saham PICO, ELIT, SAFE, EKAD, dan CENT termasuk yang mengalami penguatan terbesar.

Sebaliknya, saham MEJA, ICON, MPRO, SDMU, dan CBTN berada di antara saham dengan pelemahan harga terbesar.

Secara keseluruhan, aktivitas perdagangan saham BEI berlangsung cukup ramai. Frekuensi transaksi mencapai sekitar 2,17 juta kali.

Volume perdagangan tercatat sebanyak 34,23 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp14,26 triliun. Sebanyak 276 saham menguat, sedangkan 384 saham melemah dan 303 saham tidak berubah.

Mayoritas Bursa Asia Berakhir di Zona Merah
Tekanan juga terlihat pada sejumlah indeks saham utama Asia. Nikkei Jepang turun 0,69 persen menjadi 65.560,00.

Shanghai Composite China melemah 0,59 persen ke level 3.882,01. Hang Seng Hong Kong turun lebih dalam sebesar 1,89 persen menjadi 25.517,33.

Kospi Korea Selatan mencatat pelemahan terbesar di antara indeks yang disebutkan. Indeks tersebut turun 3,12 persen ke posisi 6.696,96.

Sementara itu, Strait Times Singapura turun 0,15 persen menjadi 5.680,69.

Pergerakan tersebut menunjukkan tekanan pasar tidak hanya terjadi di Indonesia. Investor regional masih mencermati perkembangan kebijakan ekonomi, kondisi geopolitik, serta arah pasar saham Amerika Serikat.

Investor Menanti Sentimen Pasar Berikutnya
Pelemahan IHSG pada awal pekan mencerminkan kombinasi tekanan eksternal dan domestik. Sentimen dari pasar global menjadi perhatian, terutama terkait perkembangan geopolitik dan kebijakan ekonomi negara besar.

Dari dalam negeri, kondisi transaksi berjalan menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan investor. Perkembangan data ekonomi berikutnya dapat memberikan gambaran mengenai ketahanan eksternal Indonesia.

Ke depan, pelaku pasar akan mencermati hasil pertemuan pejabat China serta perkembangan kebijakan Amerika Serikat. Arah bursa regional dan sentimen domestik berpotensi menentukan pergerakan IHSG pada perdagangan selanjutnya.

Baca Juga “Batas Harga Saham akan Dihapus, Saham GOTO Bisa Diuntungkan, Ini Analisisnya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *