IHSG Ditutup Turun 2,86 Persen Akibat Tekanan Saham Tambang dan Sentimen Global
Usulan Kenaikan Royalti Minerba dan Pelemahan Rupiah Picu Aksi Jual Investor
IHSG ditutup melemah tajam pada perdagangan Jumat setelah tekanan besar terjadi di sektor saham tambang dan komoditas. Indeks Harga Saham Gabungan Bursa Efek Indonesia turun 204,9 poin atau 2,86 persen ke level 6.969,40.
Pelemahan tersebut menjadi salah satu koreksi terbesar dalam beberapa waktu terakhir dan mencerminkan meningkatnya tekanan eksternal terhadap pasar keuangan domestik. Mayoritas sektor saham mengalami penurunan seiring aksi jual investor yang terjadi sepanjang perdagangan.
Baca Juga “IHSG ambles lagi di bawah 7.000, saham komoditas terpukul“
Analis MNC Sekuritas
, Herditya Wicaksana, mengatakan pelemahan IHSG sejalan dengan tren negatif yang juga terjadi di mayoritas bursa global dan regional Asia.
Menurut Herditya, sentimen eksternal menjadi salah satu faktor utama yang menekan pasar saham. Ketidakpastian terkait perundingan antara Amerika Serikat dan Iran dinilai meningkatkan kekhawatiran investor terhadap kondisi geopolitik global.
Selain itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami pelemahan. Kondisi tersebut menambah tekanan terhadap pasar modal Indonesia karena meningkatkan kekhawatiran investor terhadap risiko eksternal.
“Ini sejalan dengan mayoritas bursa global dan regional Asia yang terkoreksi,” ujar Herditya di Jakarta, Jumat.
Dari sisi teknikal, IHSG juga dinilai masih memiliki potensi melanjutkan koreksi dalam jangka pendek. Investor cenderung melakukan aksi profit taking di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar global.
Tekanan terbesar pada perdagangan kali ini datang dari saham-saham berbasis pertambangan dan bahan baku. Sentimen negatif muncul setelah pemerintah mengusulkan skema baru kenaikan royalti mineral dan batu bara untuk meningkatkan penerimaan negara.
Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengusulkan skema royalti progresif baru untuk sejumlah komoditas utama sektor minerba.
Skema tersebut mencakup penyesuaian batas bawah dan batas atas royalti berdasarkan harga komoditas di pasar global. Ketika harga komoditas meningkat, tarif royalti yang dikenakan juga akan naik secara progresif.
“Skema ini mencakup kenaikan batas atas royalti serta penyesuaian rentang harga guna mengoptimalkan penerimaan negara saat harga komoditas naik,” kata Herditya.
Dalam usulan tersebut, tarif royalti konsentrat tembaga diusulkan naik dari sebelumnya 7 hingga 10 persen menjadi 9 hingga 13 persen. Sementara royalti katoda tembaga meningkat dari 4 hingga 7 persen menjadi 7 hingga 10 persen.
Royalti emas juga diusulkan naik cukup signifikan, dari sebelumnya 7 hingga 16 persen menjadi 14 hingga 20 persen. Pemerintah juga menambahkan rentang harga baru untuk emas di atas 5.000 dolar AS per ons.
Sementara itu, tarif royalti perak diubah dari skema flat 5 persen menjadi progresif 5 hingga 8 persen. Royalti timah juga diusulkan meningkat dari 3 hingga 10 persen menjadi 5 hingga 20 persen.
Untuk bijih nikel, pemerintah mempertahankan tarif di kisaran 14 hingga 19 persen. Namun, penyesuaian interval harga membuat kenaikan tarif berpotensi terjadi lebih cepat dibanding sebelumnya.
Kebijakan tersebut langsung memicu tekanan besar pada saham sektor bahan baku dan energi. Investor khawatir kenaikan royalti dapat memengaruhi margin keuntungan perusahaan tambang, terutama di tengah fluktuasi harga komoditas global.
Tekanan paling dalam terjadi pada indeks sektor bahan baku atau IDXBASIC yang anjlok hingga 7,80 persen. Sektor energi atau IDXENERGY juga turun 4,59 persen, sementara sektor transportasi atau IDXTRANS melemah 5,72 persen.
Data perdagangan menunjukkan tekanan jual terjadi hampir di seluruh lini saham. Sebanyak 607 saham tercatat melemah, sedangkan hanya 138 saham yang menguat dan 214 saham bergerak stagnan.
Meski pasar terkoreksi tajam, aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia tetap cukup tinggi. Total volume perdagangan mencapai 54,39 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp36,07 triliun.
Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia tercatat sebesar Rp12.405 triliun. Tingginya nilai transaksi menunjukkan investor masih aktif melakukan reposisi portofolio di tengah tekanan pasar.
Analis menilai pergerakan IHSG dalam beberapa waktu ke depan masih akan dipengaruhi sentimen global, terutama perkembangan geopolitik dan arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.
Di sisi domestik, pelaku pasar juga akan mencermati kelanjutan pembahasan kebijakan royalti minerba serta dampaknya terhadap kinerja emiten sektor pertambangan.
Kebijakan kenaikan royalti sebenarnya diarahkan untuk meningkatkan penerimaan negara dari sektor sumber daya alam. Namun, pasar menilai implementasi kebijakan tersebut perlu mempertimbangkan kondisi industri agar tidak menekan daya saing perusahaan tambang nasional.
Selain faktor regulasi, pergerakan harga komoditas global juga masih menjadi perhatian investor. Fluktuasi harga batu bara, nikel, emas, dan tembaga diperkirakan akan memengaruhi arah pergerakan saham sektor tambang dalam jangka pendek.
Di tengah kondisi tersebut, investor cenderung bersikap lebih hati-hati dan selektif dalam memilih saham. Pasar diperkirakan masih bergerak fluktuatif hingga terdapat kepastian lebih lanjut terkait sentimen global dan kebijakan domestik yang memengaruhi sektor komoditas.
Baca Juga “Rekomendasi Saham Hari Ini: ARTO, CPIN, MIKA, SUPA, IHSG Berpeluang Lanjut Rebound“



