IHSG Menguat ke 6.449 Jelang Keputusan BI-Rate
IHSG Menguat Jelang Keputusan BI-Rate
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menguat pada perdagangan Selasa, 18 Agustus 2026. Pelaku pasar merespons ekspektasi bahwa Bank Indonesia akan mempertahankan BI-Rate pada rapat kebijakan berikutnya.
Baca Juga “Pemerintah Mau Bikin Bursa Mineral, Begini Respons Perusahaan China“
IHSG ditutup naik 47,94 poin atau 0,75 persen ke level 6.449,83. Sebaliknya, indeks LQ45 turun 1,25 poin atau 0,20 persen menjadi 631,03.
Penguatan IHSG berlangsung sejak awal perdagangan. Indeks bertahan di zona positif hingga penutupan sesi pertama dan kembali mempertahankan posisi tersebut pada sesi kedua.
Ekspektasi BI-Rate Menopang Sentimen Pasar
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim mengatakan penguatan IHSG berkaitan dengan ekspektasi pasar terhadap keputusan suku bunga Bank Indonesia.
“Penguatan IHSG ditopang oleh ekspektasi bahwa BI-Rate akan tetap dipertahankan di level 5,75 persen,” ujar Ratna dalam kajiannya di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, ekspektasi tersebut muncul seiring inflasi yang masih berada dalam sasaran Bank Indonesia. Stabilitas rupiah juga menjadi pertimbangan penting bagi arah kebijakan moneter.
Bank Indonesia telah mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen pada RDG 21-22 Juli 2026. Pada rapat tersebut, BI juga mempertahankan Deposit Facility 4,75 persen dan Lending Facility 6,50 persen.
RDG Bank Indonesia Jadi Perhatian Investor
Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia berlangsung pada 18-19 Agustus 2026. Keputusan mengenai BI-Rate menjadi salah satu agenda yang dinantikan investor karena dapat memengaruhi sentimen pasar keuangan.
Kebijakan suku bunga juga berkaitan dengan upaya Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai rupiah dan mengendalikan inflasi. Pada saat yang sama, kebijakan tersebut perlu mempertimbangkan momentum pertumbuhan ekonomi.
Bank Indonesia menjadikan stabilitas nilai rupiah sebagai bagian dari mandat utamanya. Kebijakan moneter juga terus disesuaikan dengan perkembangan inflasi, nilai tukar, serta kondisi ekonomi dan keuangan.
Sektor Energi Pimpin Penguatan IHSG
Sepuluh Sektor Menguat
Berdasarkan indeks sektoral IDX-IC, sepuluh sektor mencatat kenaikan pada perdagangan Selasa. Sektor energi menjadi pemimpin penguatan dengan kenaikan 2,24 persen.
Sektor infrastruktur menyusul dengan kenaikan 1,65 persen. Sementara itu, sektor transportasi dan logistik menguat 1,42 persen.
Di sisi lain, sektor keuangan menjadi satu-satunya sektor yang melemah. Sektor tersebut turun 0,29 persen pada akhir perdagangan.
Saham Penguat dan Pelemah Terbesar
Sejumlah saham mencatat kenaikan harga terbesar pada perdagangan Selasa. Saham KIJA, PADA, JARR, INET, dan ASLI termasuk dalam jajaran saham dengan penguatan tertinggi.
Sementara itu, TCPI, BAIK, STAR, GRPM, dan FUTR menjadi saham dengan pelemahan harga terbesar.
Pergerakan tersebut menunjukkan penguatan IHSG tidak terjadi secara merata pada seluruh saham. Investor tetap melakukan seleksi berdasarkan prospek masing-masing emiten dan kondisi sektoral.
Aktivitas Perdagangan Saham Tetap Tinggi
Transaksi Mencapai Rp14,80 Triliun
BEI mencatat frekuensi transaksi saham sebanyak sekitar 2,16 juta kali. Volume perdagangan mencapai 32,07 miliar saham dengan nilai transaksi Rp14,80 triliun.
Sebanyak 419 saham ditutup menguat. Sebanyak 248 saham melemah, sedangkan 296 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga.
Data tersebut menunjukkan aktivitas pasar tetap ramai di tengah perhatian investor terhadap keputusan kebijakan moneter. Investor juga mencermati perkembangan pasar global yang dapat memengaruhi arus modal dan sentimen domestik.
Sentimen Global Masih Membayangi Pasar
Konflik AS-Iran Jadi Perhatian Investor
Dari pasar global, sentimen investor masih dipengaruhi perkembangan konflik Amerika Serikat dan Iran. Memudarnya harapan terhadap penyelesaian konflik dalam waktu dekat meningkatkan kekhawatiran mengenai gangguan pasokan dari kawasan tersebut.
Risiko geopolitik dapat memengaruhi harga komoditas dan volatilitas pasar keuangan. Perubahan harga energi juga berpotensi memengaruhi ekspektasi inflasi dan kebijakan bank sentral.
Kondisi eksternal tersebut menjadi faktor yang perlu diperhatikan investor Indonesia. Sentimen global dapat bergerak cepat dan memengaruhi pasar domestik melalui nilai tukar serta arus dana asing.
Bursa Asia Bergerak Beragam
Pergerakan bursa saham Asia pada Selasa sore berlangsung beragam. Nikkei turun 2,45 persen menjadi 67.521,00, sedangkan Shanghai Composite naik 0,19 persen ke 3.990,18.
Hang Seng menguat 0,07 persen menjadi 25.471,85. Sebaliknya, Kospi turun 1,55 persen ke 6.869,97 dan Straits Times melemah 1,16 persen menjadi 5.701,79.
Perbedaan arah tersebut mencerminkan beragamnya respons investor Asia terhadap perkembangan ekonomi dan geopolitik global. Bagi pasar Indonesia, keputusan BI-Rate menjadi katalis domestik utama yang dinantikan pada perdagangan berikutnya.
Keputusan BI-Rate Menjadi Katalis Perdagangan Berikutnya
IHSG menutup perdagangan Selasa dengan penguatan setelah investor mengantisipasi BI mempertahankan BI-Rate di 5,75 persen. Kinerja sektor energi menjadi salah satu penopang utama kenaikan indeks.
Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada hasil RDG Bank Indonesia. Investor akan mencermati keputusan suku bunga beserta sinyal kebijakan yang diberikan bank sentral mengenai stabilitas rupiah, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi.
Respons pasar setelah keputusan tersebut akan menjadi indikator penting bagi arah IHSG dalam jangka pendek. Sentimen global, terutama perkembangan geopolitik dan pasar komoditas, tetap menjadi faktor eksternal yang perlu diperhitungkan.
Baca Juga “Bursa Komoditas Strategis Segera Hadir, Ini Respons Pelaku Industri Sawit dan Nikel“



