Investasi Saham & Reksadana untuk Pemula

IHSG Turun 8 Hari, Hanya 88 Saham Menguat

IHSG Tumbang Delapan Hari Beruntun, Mayoritas Saham Melemah

IHSG kembali mengalami tekanan besar pada perdagangan Kamis (21/5/2026). Indeks Harga Saham Gabungan ditutup melemah 223,56 poin atau 3,54 persen ke level 6.094,94 di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Pelemahan tersebut menjadi penurunan kedelapan secara berturut-turut dalam beberapa hari perdagangan terakhir. Tekanan jual yang tinggi membuat sebagian besar saham bergerak di zona merah dan memperpanjang tren koreksi pasar sejak awal tahun.

Baca Juga “IHSG anjlok 2,76% jadi indeks terburuk di emerging market Asia

Data perdagangan menunjukkan hanya 88 saham yang berhasil menguat, sementara 663 saham melemah dan 69 saham bergerak stagnan.

Investor Asing Catat Jual Bersih Saat IHSG Melemah
Net Sell Asing Tembus Rp544 Miliar

Tekanan terhadap IHSG juga dipengaruhi aksi jual investor asing yang masih cukup besar. Pada perdagangan hari ini, investor asing mencatat net sell atau jual bersih sebesar Rp544,89 miliar di seluruh pasar.

Dari jumlah tersebut, net sell di pasar reguler mencapai Rp508,11 miliar. Sementara itu, pasar tunai dan negosiasi mencatat jual bersih asing sebesar Rp36,78 miliar.

Aksi jual asing menunjukkan pelaku pasar masih cenderung berhati-hati terhadap kondisi pasar saham domestik di tengah tekanan global dan sentimen ekonomi.

Saham Perbankan dan Tambang Jadi Sasaran Jual

Beberapa saham unggulan menjadi target aksi jual investor asing. Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mencatat net sell terbesar dengan nilai Rp203,9 miliar.

Selain itu, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dilepas asing senilai Rp145,9 miliar dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp141,5 miliar.

Tekanan pada saham sektor perbankan dan komoditas menjadi salah satu faktor yang memperberat pelemahan indeks hari ini.

Saham Energi dan Infrastruktur Alami Koreksi Dalam
Seluruh Sektor Ditutup di Zona Merah

Seluruh indeks sektoral di BEI bergerak melemah mengikuti penurunan IHSG. Sektor energi menjadi sektor dengan koreksi terdalam setelah turun 6,91 persen.

Sektor barang baku ikut melemah 6,53 persen, sedangkan sektor barang konsumsi nonprimer turun 6,05 persen.

Tekanan juga terjadi pada sektor infrastruktur yang melorot 5,58 persen dan sektor perindustrian yang terkoreksi 5,37 persen.

Pelemahan merata tersebut menunjukkan tekanan pasar tidak hanya terjadi pada saham tertentu, tetapi hampir di seluruh sektor perdagangan.

Sektor Teknologi dan Keuangan Ikut Tertekan

Selain sektor komoditas dan industri, saham sektor teknologi dan keuangan juga mengalami penurunan.

Sektor teknologi turun 1,38 persen, sedangkan sektor keuangan terkoreksi 1,22 persen. Sektor kesehatan juga melemah 1,65 persen.

Kondisi ini memperlihatkan sentimen negatif pasar masih cukup kuat dan belum menunjukkan tanda pemulihan signifikan dalam jangka pendek.

Saham Top Gainers dan Top Losers LQ45 Hari Ini
AMRT dan CPIN Masih Mampu Menguat

Di tengah pelemahan pasar, beberapa saham dalam indeks LQ45 masih mampu mencatat kenaikan.

Saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) menjadi top gainers setelah naik 2,49 persen.

Selain itu, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) menguat 2,40 persen dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) naik 2,36 persen.

Kenaikan tersebut menunjukkan masih ada minat beli pada saham defensif dan saham tertentu yang dianggap memiliki fundamental kuat.

MEDC dan BRPT Pimpin Pelemahan LQ45

Di sisi lain, sejumlah saham mengalami tekanan cukup dalam. Saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) turun 14,84 persen dan menjadi top losers hari ini.

Saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) melemah 11,64 persen, sedangkan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) terkoreksi 11,05 persen.

Penurunan tajam saham-saham tersebut turut memperbesar tekanan terhadap IHSG secara keseluruhan.

Volume Transaksi Tinggi di Tengah Tekanan Pasar
Nilai Transaksi Bursa Capai Rp18,49 Triliun

Meski pasar melemah, aktivitas perdagangan di BEI tetap berlangsung tinggi. Total volume transaksi mencapai 35,78 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp18,49 triliun.

Tingginya volume perdagangan menunjukkan investor masih aktif melakukan transaksi, baik untuk aksi jual maupun akumulasi pada saham tertentu.

Namun dominasi saham yang melemah menandakan sentimen pasar masih cenderung negatif.

IHSG Turun Hampir 30 Persen Sejak Awal Tahun

Secara kumulatif, IHSG telah melemah 11,14 persen dalam lima hari perdagangan terakhir.

Sementara sejak awal tahun 2026, indeks tercatat turun hingga 29,51 persen. Koreksi tersebut menjadi salah satu tekanan terbesar yang dialami pasar saham domestik dalam beberapa tahun terakhir.

Pelaku pasar kini menantikan sentimen baru dari kebijakan ekonomi global, pergerakan suku bunga, dan stabilitas nilai tukar yang diperkirakan akan memengaruhi arah perdagangan berikutnya.

Pasar Saham Masih Dibayangi Sentimen Negatif

Tekanan beruntun terhadap IHSG menunjukkan pasar saham Indonesia masih menghadapi sentimen negatif dari faktor domestik maupun global. Aksi jual asing, pelemahan sektor energi, dan koreksi saham unggulan menjadi faktor utama yang menekan indeks.

Meski demikian, sejumlah saham masih menunjukkan penguatan terbatas, terutama dari sektor konsumsi dan saham defensif.

Analis memperkirakan volatilitas pasar masih akan tinggi dalam beberapa waktu ke depan hingga muncul kepastian terkait kondisi ekonomi global dan arah kebijakan moneter internasional.

Baca Juga “Breaking News! IHSG Anjlok 2%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *