INDUSTRI PINJOL DAN MULTIFINANCE DIPROYEKSI PANEN SELAMA RAMADAN
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat adanya tren peningkatan signifikan pada penyaluran pembiayaan di industri fintech peer-to-peer (P2P) lending atau pinjaman online (pinjol) dan multifinance menjelang Ramadan dan Lebaran. Fenomena ini terjadi seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat, termasuk tambahan modal kerja untuk pelaku UMKM secara musiman.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman, menyatakan bahwa data historis menunjukkan pertumbuhan konsisten selama periode tersebut. “Periode Ramadan hingga menjelang Lebaran memang menjadi momentum peningkatan penyaluran pembiayaan, karena masyarakat membutuhkan tambahan modal kerja dan likuiditas sementara,” ujarnya dalam pernyataan tertulis, Jumat (6/3/2026).
baca juga”OJK: Pembiayaan Paylater hingga Pinjol Melejit Jelang Bulan Puasa“
Tren Penyaluran Pembiayaan P2P Lending Meningkat
Berdasarkan data OJK, penyaluran pembiayaan P2P lending pada Maret 2024 tercatat tumbuh 8,9% month-to-month (mtm), sementara Maret 2025 tumbuh 3,8% mtm. Meski demikian, kualitas pendanaan atau TWP90 (Total Weekly Past Due 90 hari) tetap diperkirakan berada di bawah 5%.
Agusman menekankan pentingnya penguatan credit scoring dan verifikasi borrower agar pertumbuhan industri tetap sehat dan berkelanjutan. “Pertumbuhan musiman ini harus diimbangi pengelolaan risiko yang ketat, agar tidak menimbulkan kredit macet yang dapat merugikan industri maupun masyarakat,” imbuhnya.
Industri P2P lending kini menjadi salah satu tulang punggung pembiayaan mikro di Indonesia, terutama bagi UMKM yang membutuhkan dana cepat dengan proses fleksibel dan mudah. Kehadiran fintech P2P lending juga membantu memperluas akses pembiayaan ke wilayah-wilayah yang kurang terlayani oleh lembaga perbankan konvensional.
Kinerja Industri Multifinance
Tidak hanya pinjol, industri multifinance juga menunjukkan tren positif selama periode menjelang Lebaran. Pada Maret 2024, penyaluran pembiayaan multifinance tumbuh 2,05% mtm dengan NPF gross sebesar 2,45%. Sementara pada Maret 2025, pertumbuhan tercatat 0,78% mtm dengan NPF gross 2,71%.
“Kondisi ini menunjukkan bahwa momentum Lebaran mendorong peningkatan pembiayaan, namun kualitas kredit tetap terjaga. Hal ini menjadi bukti bahwa industri multifinance mampu menyeimbangkan pertumbuhan dengan pengelolaan risiko,” jelas Agusman.
Industri multifinance kini melayani berbagai jenis pembiayaan, mulai dari kredit kendaraan bermotor, modal kerja usaha kecil, hingga pembiayaan konsumen. Lonjakan penyaluran selama Ramadan biasanya terjadi pada pembiayaan konsumtif untuk persiapan Lebaran, seperti kendaraan, elektronik, atau modal tambahan bagi UMKM musiman.
Strategi Penguatan Manajemen Risiko
OJK mengimbau pelaku usaha pinjol dan multifinance untuk memperkuat manajemen risiko sesuai ketentuan POJK 42/2024. Regulasi ini menekankan pentingnya pengawasan aktif manajemen, proses identifikasi risiko, pengendalian risiko, dan sistem pengendalian internal yang memadai.
Langkah-langkah ini termasuk verifikasi data peminjam, penilaian kelayakan kredit secara komprehensif, serta monitoring terhadap portofolio pembiayaan secara berkala. Dengan pendekatan ini, pertumbuhan pembiayaan tidak hanya berkelanjutan tetapi juga aman, menjaga kepercayaan masyarakat terhadap industri keuangan digital dan multifinance.
Dampak Positif terhadap UMKM dan Ekonomi Lokal
Peningkatan penyaluran pembiayaan di bulan Ramadan memiliki dampak positif yang luas bagi ekonomi lokal. UMKM yang mendapatkan tambahan modal kerja dapat meningkatkan produksi, membuka lapangan kerja sementara, dan memenuhi permintaan konsumen menjelang Lebaran.
Selain itu, masyarakat yang memperoleh pembiayaan konsumtif bisa meningkatkan daya beli, yang secara tidak langsung mendukung perputaran ekonomi lokal. Oleh karena itu, pertumbuhan industri pinjol dan multifinance selama periode ini juga berkontribusi pada stabilitas ekonomi regional dan nasional.
Pandangan ke Depan
Melihat tren historis dan proyeksi saat ini, industri pinjol dan multifinance diprediksi akan terus tumbuh seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap pembiayaan cepat dan fleksibel. Dukungan OJK melalui regulasi, pengawasan aktif, dan edukasi literasi keuangan diharapkan mampu memastikan pertumbuhan industri sehat, aman, dan berkelanjutan.
Industri ini kini menjadi salah satu motor penggerak pembiayaan mikro dan konsumtif di Indonesia. Bagi pelaku usaha, momentum Ramadan dan Lebaran bisa dimanfaatkan sebagai puncak musiman untuk meningkatkan penyaluran pembiayaan, tetap menjaga kualitas kredit, dan memperkuat manajemen risiko. Dengan pengelolaan yang tepat, pertumbuhan industri pinjol dan multifinance tidak hanya menguntungkan perusahaan, tetapi juga masyarakat dan ekonomi secara keseluruhan.
baca juga”OJK Blokir Ratusan Pinjol Ilegal dan Dua Investasi Bodong Awal 2026“


