Harga Bitcoin Naik ke US$ 63.000, Arah Reli Masih Bergantung Kebijakan The Fed
Harga Bitcoin (BTC) kembali menguat dan menembus level US$ 63.000 atau sekitar Rp 1,14 miliar. Penguatan aset kripto terbesar di dunia tersebut didorong oleh membaiknya sentimen pasar global, tetapi kelanjutan reli masih bergantung pada arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Fed.
Dalam perdagangan 24 jam terakhir, Bitcoin tercatat naik sekitar 2,48% ke posisi US$ 63.615,89. Kenaikan ini terjadi ketika pasar aset berisiko seperti saham dan emas juga bergerak positif seiring meningkatnya harapan investor terhadap peluang pelonggaran kebijakan moneter di Amerika Serikat.
Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menjelaskan bahwa kenaikan Bitcoin saat ini lebih dipengaruhi faktor makroekonomi dibandingkan perkembangan internal industri kripto. Korelasi Bitcoin dengan indeks S&P 500 dan emas juga menunjukkan bahwa pergerakan aset digital tersebut masih sangat sensitif terhadap perubahan kondisi ekonomi global.
baca juga”Bitmine Borong Ethereum Rp3,89 Triliun di Tengah Gejolak“
Penguatan Bitcoin Masih Ditopang Sentimen Makro dan Pergerakan Aset Berisiko
Menurut Fyqieh, kenaikan harga Bitcoin di atas US$ 63.000 lebih tepat dikategorikan sebagai rebound teknikal yang memperoleh dukungan dari perbaikan sentimen pasar. Kondisi ini menandakan investor mulai kembali melirik aset berisiko setelah sebelumnya menghadapi tekanan akibat ketidakpastian ekonomi.
Meski peluang Bitcoin untuk naik menuju area US$ 64.000 hingga US$ 65.000 masih terbuka, investor tetap perlu berhati-hati karena belum terdapat katalis kuat dari pasar kripto yang dapat mendukung kenaikan secara berkelanjutan.
Selain faktor suku bunga, pasar juga mencermati perkembangan geopolitik dunia. Meredanya ketegangan setelah muncul kabar mengenai potensi kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran turut meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk aset kripto.
Level US$ 62.000 Menjadi Area Penting bagi Pergerakan Bitcoin
Fyqieh menyebut level US$ 62.000 menjadi batas psikologis yang perlu dipertahankan Bitcoin dalam jangka pendek. Apabila harga mampu bertahan di atas zona tersebut, peluang penguatan menuju resistance US$ 64.000 hingga US$ 65.000 masih terbuka.
Secara teknikal, Bitcoin juga berpotensi menguji level exponential moving average (EMA) 200 hari di kisaran US$ 63.700 sebelum mencoba menembus area resistance berikutnya.
Namun, apabila harga turun dan menembus support US$ 62.000, tekanan jual dapat kembali meningkat. Kondisi tersebut berpotensi membawa Bitcoin menguji area dukungan berikutnya di sekitar US$ 61.000.
Arus Dana ETF dan Keputusan The Fed Jadi Penentu Tren Berikutnya
Prospek Bitcoin ke depan juga akan dipengaruhi oleh arus dana investor institusional melalui produk spot Bitcoin Exchange-Traded Fund (ETF). Arus masuk dana atau inflow ETF berpotensi memperkuat struktur harga karena mengurangi pasokan Bitcoin yang tersedia di pasar.
Sebaliknya, arus keluar dana atau outflow ETF dapat menjadi sinyal bahwa minat investor mulai melemah sehingga kenaikan harga berisiko kehilangan momentum.
Selain itu, keputusan The Fed dalam menentukan arah suku bunga akan menjadi faktor utama yang diperhatikan pelaku pasar. Data inflasi, kondisi ekonomi Amerika Serikat, serta pernyataan pejabat bank sentral akan menentukan selera investor terhadap aset berisiko.
Secara keseluruhan, prospek Bitcoin dalam jangka pendek masih berada dalam fase positif dengan pendekatan yang tetap hati-hati. Selama mampu mempertahankan harga di atas US$ 62.000, peluang untuk melanjutkan penguatan masih terbuka. Namun, reli yang lebih kuat membutuhkan dukungan dari peningkatan volume perdagangan, arus masuk ETF, dan kepastian arah kebijakan moneter The Fed.
baca juga”CryptoQuant Ramal Bitcoin Bisa Turun ke US$ 53.600, Ini Alasannya“



