Target Harga Saham ENRG Setelah Rights Issue Berubah
PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) memasuki tahap baru setelah menyelesaikan aksi penambahan modal melalui hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue. Aksi korporasi ini mengubah struktur permodalan sekaligus memengaruhi perhitungan valuasi saham ENRG.
Rights Issue ENRG Himpun Dana hingga Rp4,12 Triliun
Dalam rights issue tersebut, ENRG menawarkan maksimal 13,28 miliar saham baru Seri B. Perseroan menetapkan harga pelaksanaan sebesar Rp310 per saham dengan rasio 2:1.
Berdasarkan struktur tersebut, aksi korporasi ENRG berpotensi menghimpun dana hingga sekitar Rp4,12 triliun. Tambahan saham ini membuat jumlah saham beredar ENRG meningkat secara signifikan.
Baca Juga “Revisi Target MBG Dampak Terbatas ke Unggas, Saham CPIN Top Pick“
Sebelum rights issue, jumlah saham ENRG berada di kisaran 26 miliar saham. Setelah aksi korporasi, jumlah tersebut diperkirakan meningkat menjadi sekitar 39,8 miliar saham.
Perubahan jumlah saham menjadi faktor penting dalam menghitung kembali nilai wajar ENRG. Investor perlu memperhatikan penyesuaian valuasi setelah struktur modal perusahaan berubah.
BRI Danareksa Sesuaikan Target Harga ENRG
Fundamental Analyst BRI Danareksa Sekuritas Abida M. Armand sebelumnya memperkirakan nilai wajar ENRG berada pada rentang Rp1.500 hingga Rp1.700 per saham.
Perhitungan tersebut dilakukan sebelum memperhitungkan dampak rights issue. Dengan metode discounted cash flow, BRI Danareksa Sekuritas menetapkan nilai wajar ENRG pada sekitar Rp1.650 per saham.
“Dari hasil kalkulasi kami, value dari Energi Mega Persada itu berada di kisaran Rp1.500-Rp1.700, dengan angka tepatnya Rp1.650 menggunakan perhitungan discounted cash flow,” ujar Abida pada Kamis (13/8).
Setelah rights issue, BRI Danareksa Sekuritas menyesuaikan target harga ENRG menjadi sekitar Rp1.200 per saham. Penyesuaian tersebut terutama mencerminkan perubahan harga teoritis dan peningkatan jumlah saham beredar.
Abida menegaskan bahwa penyesuaian target harga bukan berarti nilai fundamental perusahaan mengalami penurunan. Perubahan tersebut terjadi karena struktur saham ENRG berubah setelah aksi korporasi.
“Fair value-nya bukan turun, tetapi ini dikarenakan adanya harga teoritis yang baru karena ada penambahan jumlah saham yang baru,” kata Abida.
ENRG Masih Memiliki Potensi Kenaikan
Meskipun target harga mengalami penyesuaian, BRI Danareksa Sekuritas masih melihat peluang penguatan saham ENRG. Berdasarkan perhitungan setelah rights issue, potensi kenaikannya berada di sekitar 20% dari harga pasar.
Pada perdagangan Jumat, 14 Agustus 2026, saham ENRG ditutup di level Rp1.265 per saham. Harga tersebut turun 0,79% dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Dengan target sekitar Rp1.200 per saham, investor tetap perlu mencermati perbedaan antara harga pasar dan hasil valuasi terbaru. Pergerakan saham juga dapat dipengaruhi sentimen komoditas serta perkembangan operasional perusahaan.
Pembeli Siaga Perkuat Kepastian Rights Issue
Dari sisi pelaksanaan rights issue, Abida menilai tingkat penyerapan relatif tinggi karena terdapat pembeli siaga. PT Bakrie Kalila Investment disebut memiliki komitmen membeli hingga sekitar 10,5 miliar saham.
Pembelian tersebut dapat dilakukan apabila pemegang saham lainnya tidak menyerap seluruh HMETD yang menjadi haknya. Keberadaan pembeli siaga memberikan dukungan terhadap kepastian penyerapan saham baru.
Investor tetap perlu memperhatikan dampak dilusi dan perubahan struktur kepemilikan setelah penerbitan saham baru. Faktor tersebut menjadi bagian penting dalam mengevaluasi prospek ENRG pascarights issue.
Harga Minyak Jadi Sentimen untuk Kinerja ENRG
Selain dampak rights issue, pergerakan harga minyak menjadi faktor lain yang perlu diperhatikan investor. Meskipun produksi ENRG didominasi gas, perusahaan tetap memiliki eksposur terhadap produksi minyak.
Abida menyebut harga jual rata-rata minyak ENRG berada di sekitar US$87 per barel. Angka tersebut berada di atas proyeksi awal tahun dan berpotensi memberikan dukungan terhadap kinerja operasional.
BRI Danareksa Sekuritas juga menguji sensitivitas harga minyak terhadap EBITDA ENRG. Hasil analisis menunjukkan setiap kenaikan harga minyak sebesar US$5 per barel dapat meningkatkan EBITDA sekitar 4%.
“Setiap peningkatan US$5 per barel akan menambah 4% ke EBITDA menurut analisis kami,” ujar Abida.
Namun, ia mengingatkan bahwa harga minyak memiliki tingkat sensitivitas dan volatilitas yang cukup tinggi. Karena itu, perubahan harga komoditas tetap menjadi risiko yang perlu diperhitungkan investor.
Prospek Saham ENRG Pasca Rights Issue
Rights issue membawa perubahan penting terhadap struktur saham dan perhitungan valuasi ENRG. Target harga BRI Danareksa Sekuritas kini berada di sekitar Rp1.200 per saham setelah memperhitungkan penambahan saham.
Di sisi lain, prospek ENRG tetap dipengaruhi oleh kinerja operasional, harga minyak, produksi gas, serta efektivitas penggunaan dana hasil rights issue.
Investor sebaiknya tidak hanya membandingkan target harga dengan harga pasar. Evaluasi juga perlu mempertimbangkan perubahan jumlah saham, fundamental perusahaan, risiko komoditas, dan perkembangan kinerja ENRG ke depan.
Baca Juga “Presiden Packaging Corp Hassfurther jual saham senilai $1,79 juta“



